Asuhan Keperawatan
2.8.1 Pengkajian
a. Identifikasi Klien
Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat, tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.
b. Keluhan Utama
Tanyakan pada keluarga atau klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan pada klien atau keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal.
d. Aspek Fisik
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu, pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi organ kalau ada keluhan.
e. Aspek Psikososial
1. Konsep Diri.
Citra tubuh : Biasanya pasien dengan waham miliki perasaan negatif terhadap diri sendiri.
Identitas diri : Pada pasien dengan waham kebesaran misalnya mengaku seorang polisi padahalkenyataan nya tidak benar.
Peran Klien : berperan sebagai kepala keluarga dalam keluarganya.
Ideal diri : Klien berharap agar bisa cepat keluar dari RSJ karena ia bosan sudah lama di RSJ.
Harga diri : Adanya gangguan konsep diri : harga diri rendah karena perasaan negatif terhadapdiri sendiri,hilangnya rasa percaya diri dan merasa gagal mencapai tujuan.
2. Hubungan Sosial
Pasien dengan waham biasanya memiliki hubungan sosial yang tidak haramonis.
3. Spiritual.
Nilai dan Keyakinan : Biasanya pada pasien dengan waham agama meyakini agamanya secara berlebihan.
Kegiatan Ibadah : Biasanya pada pasien dengan waham agama melakukan ibadah secara berlebihan.
f. Status Mental.
1. Penampilan
Pada pasien waham biasanya penampilan nya sesuai dengan waham yang ia rasakan.Misalnya pada waham agama berpakaian seperti seorang ustadz.
2. Pembicaraan
Pada pasien waham biasanya pembicaraan nya selalu mengarah ke wahamnya,bicara cepat,jelas tapi berpindah-pindah,isi pembicaraan tidak sesuai dengankenyataan.
3. Aktivitas Motorik
Pada waham kebesaran bisa saja terjadi perubahan aktivitas yang berlebihan.
4. Alam Perasaan
Pada waham curiga biasanya takut karena merasa orang-orang akan melukai dan mengancam membunuhnya.Pada waham nihilistik merasa sedih karena meyakini kalau dirinya sudah meninggal.
5. Interaksi Selama Wawancara
Pada pasien waham biasanya di temukan :
Defensif : selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran dirinya.
Curiga : menunjukkan sikap / perasaan tidak percaya pada orang lain.
6. Isi Pikir
Pada pasien dengan waham Kebesaran biasanya : klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuannya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.
7. Proses Pikir
Pada pasien waham biasanya pikiran yang tidak realistis,flight of ideas,pengulangankata-kata.
8. Tingkat Kesadaran
Biasanya masih cukup baik.
2.8.2 Analisa Data
NO
|
Data
|
Masalah
|
1.
|
S:
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistis bahwa dia adalah anggota DPR yang baru terpilih pada pemilu kemarin.
O :
Kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang
|
Risiko gangguan komunikasi verbal
|
2.
|
S :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya mengenai kebesaran (menjadi anggota DPR) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
O :
Setiap pagi klien selalu berpakaian rapi, bersepatu kinclong seperti layaknya anggota DPR.
|
Perubahan proses pikir : waham
|
3.
|
S:
Klien mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa, bodoh dan mengkritik diri sendiri.
O:
Klien tampak lebih suka sendiri, ingim mencederai diri dan ingin mengakhiri hidup.
|
Gangguan harga diri rendah
|
2.8.3 Pohon Masalah
Proses terjadinya waham menurut Stuart dan Sundeen dapat dirangum dalam pohon masalah sebagai berikut:
Resiko tinggi gangguan komunikasi verbal
|
Effect:
Gangguan isi pikir: Waham
|
Core problem:
Causa:
Koping individu tidak efektif
|
2.8.4 Intervensi
SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya
TUK :
1. Membantu orientasi realita.
2. Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan.
3. Mempraktekkan pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi.
ORIENTASI :
“Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Indah, saya perawat yang dinas pagi ini di Ruang Angkasa. Saya dinas dari jam 07.00–14.00, saya yang akan membantu perawatan bapak hari ini. Nama bapak siapa? senangnya dipanggil apa?”
“Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang bapak R rasakan sekarang?”
“Berapa lama bapak R mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang pak?”
KERJA :
“Saya mengerti pak R merasa bahwa pak R adalah seorang anggota DPR, saya sulit mem percayainya karena setahu saya bapak adalah pegawai kelurahan?”
“Bisakah pak R ceritakan kepada saya apa yang pak R rasakan saat ini?”
“Oooo, jadi pak R merasa kecewa karena keluarga bapak tidak menyetujui keputusan bapak untuk menjadi anggota DPR?”
“Menurut bapak kenapa keluarga pak R membawa anda kemari?”
“Oh begitu ya pak, lalu bagaimana sikap bapak terhadap keputusan dari keluarga bapak?”
“dalam waktu dekat ini apa kegiatan yang ingin bapak lakukan?
TERMINASI :
“Bagimana perasaan pak R setelah berbincang-bincang dengan saya?”
“Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus.”
“Bagaimana kalau pak R coba membuat jadwal kegiatan, setuju pak?”
“Bagaimana kalau bincang-bincang kita saat ini kita akan lanjutkan lagi.”
“Saya akan datang kembali dua jam lagi.”
“Kita akan berbincang-bincang tentang hal-hal yang senang pak R lakukan?”
“Bapak mau kita berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau disini saja pak R?”
SP 2 Pasien : Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu mempraktekannya.
TUK:
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki
3. Melatih kemampuan yang dimiliki
ORIENTASI :
“Assalamualaikum pak R, bagaimana perasaannya saat ini? Bagus”
“Apakah pak R sudah mengingat-ingat apa saja kegiatan yang sering pak R lakukan?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan kegemaran pak R tersebut sekarang?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi pak R tersebut?”
“Berapa lama pak R mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit?”
KERJA :
“Apa saja kegiatan yang pak R senangi? Saya catat ya pak, terus apa lagi?”
“Wah, rupanya pak R suka menjadi pemimpin dalam berbagai kegiatan di masyarakat.”
“Bisa pak R ceritakan kepada saya kapan pertama kali bapak memimpin sebuah kegiatan?”
“Bisa pak R peragakan kepada saya bagaiman bapak memimpin acara tersebut?”
“Wah, bagus sekali pak. Bagaimana kalau kita ikut kegiatan senam rutin di tempat ini?”
“Apa pak R mau unutk memimpin kegiatan senam ini?”
TERMINASI :
“Bagaimana perasaan pak R setelah kita berbincang-bincang tentang kegemaran pak R?”
“Bagaimana kalau bincang-bincang kita saat ini kita akan lanjutkan lagi.”
“Bagaimana kalau besok sebelum makan siang? Nanti kita ketemuan di taman saja, setuju pak?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus pak R minum, setuju?”
SP 3 P : Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar.
TUK
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur
3. Menganjurkan pasien memasukkan waktu minum obat ke dalam jadwal kegiatan harian
ORIENTASI :
“Assalamualaikum pak R.”
“Bagaimana pak setelah memimpin senam tadi pagi? Bagus sekali.”
“Sesuai dengan janji kita tadi, kita akan membicarakan tentang obat yang harus pak R minum, Bagaimana kalau kita mulai sekarang pak?”
“Berapa lama pak R mau kita membicarakannya? Bagaimana kalau 20 atau 30 menit saja?”
KERJA:
“Pak R berapa macam obat yang diminum, jam berapa saja obat yang diminum?”
“Pak R perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang.”
“Obatnya ada tiga macam pak, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar tenang, yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3 kali sehari, jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam.”
“Bila nanti setelah minum obat mulut pak R terasa kering, untuk membantu mengatasinya pak R bisa banyak minum dan mengisap-isap es batu.”
“Sebelum minum obat ini pak R mengecek dulu label dikotak obat apakah benar nama pak R tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar!”
“Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi, sebaiknya pak R tidak menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter.”
TERMINASI :
“Bagaiman perasaan pak R setelah kita becakap-cakap tentang obat yang pak R minum? Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat?”
“Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan! Jangan lupa minum obatnya dan nanti saat makan minta sendiri obatnya pada perawat!”
“Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya pak!”
“Pak besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan.
“Bagaimana kalau seperti biasa, jam 10 dan ditempat sama?”
“Sampai besok ya pak.”
STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI PADA
KELUARGA PASIEN DENGAN WAHAM
SP 1 KP : Membina hubungan saling percaya dengan keluarga
TUK
1. Mengidentifikasi masalah
2. Menjelaskan proses terjadinya masalah
3. Menjelaskan obat pasien.
ORIENTASI :
“Assalamualaikum pak, pekenalkan nama saya Indah, saya perawat yang dinas di ruang Angkasa ini. Saya yang merawat Pak R selama ini. Kalau bisa saya tahu nama ibu siapa? Senangnya dipanggil apa?”
“Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang masalah pak R cara merawat pak R dirumah.”
“Dimana ibu mau berbicara dengan saya? Bagaimana diruang wawancara?”
“Berapa lama ibu mau berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana kalau 20 menit saja?”
KERJA :
“Bu J, apa masalah yang bapak rasakan dalam merawat pak R? apa yang sudah pak R lakukan dirumah? Dalam menghadapi sikap pak R yang selalu mengaku-ngaku sebagi seorang anggota DPR tetapi nyatanya bukan, hanya merupakan salah satu gangguan proses berpikir. Untuk itu akan saya jelaskan sikap dan cara menghadapinya. Setiap kali pak R berkata bahwa ia seorang anggota DPR, pak R dan ibu bersikap dengan mengatakan;
Pertama: Ibu J mengerti bahwa pak R merasa seorang anggota DPR, tapi sulit bagi ibu untuk mempercayainya karena setahu kita Pak R tidak terpilih dalam pemilu.
Kedua: Ibu J harus lebih sering memuji Pak R jika ia melakukan hal-hal yang baik”
Ketiga: hal-hal ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yan berinteraksi dengan pak R. Ibu dan anak dapat bercakap-cakap dengan Pak R tentang kebutuhan yang diinginkan oleh pak R, misalnya; ibu percaya kalau pak R punya kemampuan dan keinginan. Coba ceritakan kepada kami, R kan punya kemampuan”
Keempat: Ibu mengatakan kepada pak R, Bagaimana kalau kemampuan untuk memimpin dengan baik bisa dipraktekan dengan memimpin shalat” dan kemudian setelah dia melakukannya ibu harus memberikan pujian.
Ibu jangan lupa, pak R ini perlu minum obat agar pikirannya jadi tenang.”
“Obatnya ada tiga macam bu, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar tenang, yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3 kali sehari, jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam, jangn dihentikan sebelum berkonsultasi dengan dokter karena dapat menyebabkan Pak R bisa kambuh kembali. Pak R sudah punya jadwal minum obat. Jika dia minta obat sesuai jamnya, segera berikan pujian!”
TERMINASI :
“Bagaimana perasaan ibu setelah berbincang-bincang dengan saya tentang cara merawat pak R dirumah nanti?”
“Setelah ini coba ibu lakukan apa yang sudah saya jelaskan tadi setiap kali berkunjung kerumah sakit.”
“Baiklah, bagaimana kalau dua hari lagi ibu datang kembali kesini dan kita akan mencoba melakukan langsung cara merawat pak R sesuai dengan pembicaraan kita tadi.”
“Baik kalau begitu pertemuan kita kali ini kita akhiri dulu, saya tunggu kedatangan ibu lagi kita ketemu ditempat ini ya,bu.”
SP 2 KP : Melatih kelurga cara merawat pasien.
TUK:
1. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien waham
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien waham
ORIENTASI:
“Assalamualaikum bu, sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu kita sekarang ketemu lagi. Bagaimana bu, ada pertanyaan tentang cara merawat pasien seperti yang telah kita bicarakan dua hari yang lalu?, sekarang kita akan latihan cara-cara merawat pasien tersebut ya bu.”
“Kita akan coba disini dulu, setelah itu baru kita coba langsung pada Pak R ya?”
KERJA:
“Sekarang anggap saja saya pak R yang sedang mengaku anggota DPR, coba ibu praktikkan cara bicara yang benar bila pak R sedang dalam keadaan seperti ini!”
“Bagus,betul begitu caranya, sekarang coba praktikkan cara memberikan pujian atas kemampuan yang dimiliki oleh pak R. bagus !”
“Sekarang coba cara memotivasi pak R minum obat dan melakukan kegitan positifnya sesuai jadwalnya!” Bagus sekali ternyata ibu sudah mengerti cara merawata Pak R.”
“Bagaimana kalau sekarang kita coba langsung kepada pak R.”
TERMINASI:
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berlatih cara merawat pak R?”
“Setelah ini coba ibu lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali ibu membesuk pak R!”
“Baiklah, bagaimana kalau dua hari lagi ibu datang kembali ke sini dan kita akan mencoba lagi cara merawat pak R sampai ibu lancar melakukannya?”
“Jam berapa ibu bisa kemari?” Baik, kita akan ketemu lagi di tempat ini ya,bu.”
SP 3 KP : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.
TUK
1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas termasuk minum obat
2. Menjelaskan follow up pasien
ORIENTASI:
“Assalamualaikum bu, karena pada hari ini pak R sudah boleh pulang, maka kita bicarakan jadwal pak R selama dirmah.”
“Bagaimana bu, selama ibu besuk apakah sudah terus dilatih cara merawat pak R?”
“Nah, sekarang bagaimana kalau kita bicarakan jadwal di rumah? Mari ibu ikut saya”
“Berapa lama ibu mau berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana kalau 30 menit saja? Sebelum ibu menyelesaikan administrasinya”
KERJA:
“Bu, ini jadwal pak R selama di rumah sakit. Coba perhatikan! Apakah kira-kira dapat dilaksanakan semuanya di rumah? Jangan lupa perhatikanpak R agar ia tetap melaksanakannya dirumah dan jangan lupa member tanda M (mandiri), B (bantuan), atau T (tidak mau melaksanakannya).”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilku yang ditampilkan oleh pak R selama dirumah. Misalnya pak R mengaku sebagai seorang anggota DPR terus menerus dan tidak memeperlihatkan perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi petugas rumah sakit, agar petugas rumah sakit dapat memantaunya.”
TERMINASI:
“Apa yang ingin ibu tanyakan? Bagaimana perasaan ibu? Sudah siap untuk melanjutkan dirumah?”
“Ini jadwal kegiatan hariannya. Ini rujukan untuk bisa control lagi. Kalau ada apa-apa bapa dan ibu segera menghubungi kami. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan mohon maaf bila ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan ibu mohon dimaafkan. Terimakasih atas kerjasamanya bu.”
“Silahkan ibu untuk dapat menyelesaikan administrasinya ke kantor depan!”